
TEGALLALANG – Pemulihan ekonomi berbasis kerakyatan kini semakin nyata terlihat di tingkat tapak. Salah satu contoh konkretnya ditunjukkan oleh Wayan Sudira, perajin asal Tegallalang yang sukses menyulap limbah kayu laut menjadi tumpuan hidup bagi puluhan keluarga dan warga yang sempat kehilangan pekerjaan.
Melalui usaha rumahan bernama Ulu Sari Handicraft, Wayan membuktikan bahwa modal kepekaan terhadap lingkungan sekitar bisa menjadi pemantik bangkitnya ekonomi warga. Tumpukan kayu hanyut yang mengotori pesisir pantai Bali—seperti di kawasan Tabanan—ia kumpulkan untuk dirakit kembali menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi.
Penyelamat Dapur Warga Saat Badai Pandemi
Sektor ekonomi rakyat sering kali menjadi jaring pengaman sosial yang paling tangguh. Ketika badai pandemi COVID-19 menghantam sektor pariwisata Bali beberapa tahun lalu dan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, Ulu Sari Handicraft justru hadir menjadi oase.
Hingga saat ini, Wayan berhasil mempekerjakan sekitar 45 karyawan di dua workshop-nya yang terletak di Singaraja dan Tegallalang. Sebagian besar dari mereka adalah kerabat, tetangga sekitar, serta mantan pekerja sektor lain yang terpuruk akibat pandemi.
“Semua ini titiang (saya) yakini karena jalan Tuhan. Dari kayu yang terbuang, astungkara bisa menjadi rezeki untuk keluarga, untuk karyawan, dan untuk orang-orang di sekitar,” ujar Wayan dengan nada syukur.
Langkah ini dinilai nyata mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam menciptakan lapangan kerja yang layak dan mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif.
Sentuhan Permodalan Mikro Dorong Pasar Ekspor
Kunci sukses ketahanan Ulu Sari Handicraft juga tidak lepas dari dukungan ekosistem pembiayaan mikro. Sejak tahun 2017, Wayan resmi menjadi nasabah pembiayaan PNM ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro).
Akses permodalan dan pendampingan usaha yang diberikan secara rutin oleh PNM diakui sangat membantu usaha rakyat seperti miliknya untuk naik kelas dan dikelola secara lebih terarah. Hasilnya, produk kerajinan tangan berbahan dasar limbah ini justru semakin diminati oleh pasar internasional saat pasar domestik sedang lesu.
Karya-karya seni sisa kayu pantai ini sekarang rutin menembus pasar mancanegara, mulai dari Selandia Baru, Australia, Prancis, Belgia, Belanda, Jerman, hingga Amerika Serikat.
Kisah Ulu Sari Handicraft menjadi bukti hidup bahwa pemberdayaan ekonomi rakyat sejati adalah yang bergerak secara kolektif. Ketika sebuah usaha mikro tumbuh, dampak kesejahteraannya tidak hanya dinikmati oleh sang pemilik, melainkan turut mengalir ke dapur para tetangga, lingkungan, dan membawa harapan baru bagi komunitas di sekitarnya.
